Marketing, suatu kata yang tidak asing lagi didengar oleh semua lapisan masyarakat, baik di desa maupun di kota. Banyak pihak beranggapan pekerjaan sebagai marketing merupakan pekerjaan yang “kurang bonafid”, karena harus menjual ke sana ke Mari, seperti layaknya jualan obat, begitulah kira-kira persepsi banyak orang.
Namun, dengan semakin berkembangnya kemajuan zaman, maka terlihat bahwa pekerjaan Marketing bukan lagi pekerjaan yang tidak diperhitungkan, tetapi justru semakin banyak orang mendalami akan marketing, karena suatu perusahaan atau organisasi bahkan lembaga pemerintahan memerlukan pekerjaan Marketing.
Bagaimana banyak orang membeli produk suatu perusahaan, jika tidak ada tenaga marketing yang mensual dan mempromosikannya. Demikian juga bagaimana suatu organisasi, seperti organisasi politik, dapat menarik massa
Mau tampil segar agar awet muda? Ada yang memberi resep makan sayur. Ada yang menganjurkan banyak olahraga. Ada juga yang menyarankan pikirkan saja hal-hal yang bikin hidup bergairah dan terus bergerak.
Banyak resep, banyak mitos, banyak juga vitamin yang diresepkan dokter. Apapun cara yang mau dipilih, umur terus bertambah dan tidak bisa disetop agar kita tetap awet muda.
Meskipun kita sadar ada fenomena daur hidup termasuk daur hidup perusahaan, pengelolaan perusahaan perlu mencoba melawan arus sehingga perusahaan tidak jadi tua dan mati. Perusahaan harus terus berupaya menyegarkan dirinya sendiri. Dengan membuat dirinya tetap segar, perusahaan bisa menjaga semangat kerja personil agar punya energi untuk terus bergerak dinamis. Perusahaan juga perlu terus menyegarkan sendiri agar konsumennya tidak bosan dan tetap loyal. Dengan terus tampil segar, perusahaan juga punya daya ekstra untuk menarik pelanggan baru.
Balam upaya membuat perusahaan tetap segar, kita hargai kreativitas dan kerja keras tanpa henti dari Bank Muamalat Indonesia (BMI). Meskipun menjadi bank syariah tertua di Indonesia tetapi BMI terus mampu menjadi trend setter, misalkan melalui Shar-E. BMI mampu keluar dari sindrom kekonservatifan. Beraliansi dengan PT Pos Indonesia, BMI memasarkan Shar-E melalui lebih dari 1.000 kantor pos online. Berbagai fasilitas dan keunikan Shar-E tersebut membuat produk ini berbeda dari produk lain di perbankan. Kehadiran Shar-E juga memperkuat citra Bank Muamalat sebagai bank syariah. Inovasi telah membuat Bank Muamalat mampu menembus keterbatasan sumber daya yang dimilikinya.
But many who are now first will be last, and many who are last will be first. Now that is sage advice for later entrant …
Kalimat ini saya dapatkan pada saat saya membaca dihalaman terakhir dari karya “Steven P Schnaars” dalam bukunya “Managing Imitation Strategies” . Kalimat tersebut sebenarnya dikutip dari pakar marketing dari kerajaan surgawi yang bernama “Matthew”.
Professor Levitt juga pernah berkomentar untuk para imitator ataupun later entrants dalam sebuah artikel berjudul “Innovative Imitation” dimana dikatakan bahwa suatu strategi peniruan produk mungkin sama menguntungkannya dengan strategi inovasi produk terlepas dari kekurangan maupun kelebihan dari mereka.
Satu pernyataan yang sangat menarik dikemukakan oleh Roger Konopasek dalam bukunya yang berjudul “Make Million $ Marketing”. Pernyataan tersebut berbunyi demikian: “Pada awalnya semua pencapaian yang luar biasa berawal dari sebuah mimpi. Impian-impian yang membuat usaha kita bermakna biasanya terdiri dari mobil bagus, rumah besar, anak-anak sekolah di universitas bergengsi, liburan ke tempat-tempat menyenangkan, banyak waktu luang serta uang yang melimpah agar dapat menikmati hidup ini sepenuhnya (Konopasek:2003:1). Berbagai impian tersebut tidak hanya menyenangkan tetapi sangat penting untuk mencapai tujuan kita. Orang yang tidak memiliki mimpi tidak mempunyai tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian ia akan hidup dalam keterlantaran, pasrah menerima segala sesuatu yang datang. Impian merupakan bahan bakar yang akan menggerakkan kita ke tingkatan yang lebih tinggi sedangkan kesenangan bertindak sebagai pendorong. Jika kesenangan sudah tak ada lagi dalam diri kita maka hidup kita tak lagi menyenangkan, karena apapun yang dilakukan hanya akan mengarahkan pada hal yang menjemukan, menyakitkan atau merugikan. Segala sesuatunya cenderung membosankan”. Robert T Kiyosaki dalam bukunya “The Business School” juga menekankan pentingnya impian. Orang besar mempunyai impian yang besar dan orang kecil mempunyai impian kecil. Orang yang memimpikan impian kecil akan terus menjalani hidup sebagai orang kecil, oleh karenanya perbesarlah ukuran impian anda dari waktu ke waktu.
Reorientasi Strategi Pemasaran PERUMNAS di Era Otonomi Daerah
Tantangan yang dihadapi Perum Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas) sebagai sebuah perusahaan BUMN, tampaknya akan semakin berat. Selain perubahan faktor eksternal karena adanya era globalisasi dan otonomi daerah, secara internal perusahaan ini menanggung beban yang tidak ringan, karena memiliki dua misi yang berbeda. Di satu sisi perusahaan harus mampu menyediakan rumah murah bagi sebagian besar golongan ekonomi menengah ke bawah, sedangkan disisi yang lain ia harus mampu menghasilkan return yang cukup baik untuk kelangsungan bisnis ini secara professional.
Artinya, dengan menanggung fungsi sosial untuk membuat produk dengan harga relatif murah, Perumnas juga harus mampu menghasilkan laba yang cukup signifikan. Masalah yang dihadapi ini, merupakan tipikal perusahaan – perusahaan BUMN lainnya, seperti, PT. PLN, PT. KAI, PT. TIMAH dan sebagainya.
Menjelang era perdagangan bebas dimulai pada AFTA tahun 2003 dan otonomi daerah, Perumnas tidak boleh lagi mengandalkan subsidi dari pemerintah, perusahaan harus melakukan efisiensi dalam rangka mengurangi biaya produksi seminimal mungkin sehingga mampu bersaing dengan pasar bebas. Apabila dilihat dari struktur pendapatan yang diperoleh tahun 2001, yaitu sebagai berikut: