Dalam beberapa tahun mendatang, peta pasar industri otomotif Indonesia akan mengalami perubahan. Mobil-mobil yang lebih ramah lingkungan, akan segera semakin terlihat banyak di jalanan kota-kota di Indonesia. Bahan bakar yang digunakan, akan memiliki standard keramahan lingkungan yang tinggi. Salah satu standard yang digunakan adalah Euro 2. Tetapi, tentu saja, ini semua akan dimulai dengan mobil-mobil untuk kalangan atas. Maklum, mobil-mobil inilah yang memang sudah siap menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena pihak produsen sudah mengantisipasi dan hanya kalangan atas yang mampu membayar ‘nilai premium' sebagai pengguna awal dari aplikasi teknologi baru ini. Pertamina sendiri sebagai penyedia bahan bakar yang berstandard Euro 2, tidak lama lagi akan segera mendistribusikan bahan bakar ini secara luas di pasaran Indonesia.
Apakah ini sebagai salah satu gejala yang menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin sadar akan lingkungan? Apakah konsumen Indonesia semakin tertarik untuk membeli produk yang diposisikan sebagai produk yang ramah lingkungan? Saya yakin, jawabannya tidak. Bahwa selama beberapa tahun terakhir ini, memang semakin banyak produk yang ramah lingkungan, tetapi keberadaan produk seperti itu, biasanya terjadi karena faktor regulasi atau karena globalisasi.
“Kalau bisa ‘cuci tangan’, ngapain ikut bertanggung jawab”, begitu sikap perusahaan yang acuh pada lingkungannya. Bahkan ada juga keluh kesah tentang rencana pencantuman Corporate Social Responsibility (CSR) dalam revisi undang-undang Perseroan Terbatas, yang menganggap CSR sebagai beban yang menghambat daya saing bisnis. Betulkah begitu? Lifebuoy membuktikan sebaliknya. Melalui program Lifebuoy Berbagi Sehat, Lifebuoy melakukan sosialisasi budaya hidup bersih dan sehat dengan tujuan menggugah dan membangun kesadaran masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat dalam kegiatannya sehari-hari. Dokter Kecil yang dibentuk oleh para guru yang mengikuti workshop Lifebuoy dinamakan sebagai pasukan 20 detik. Arti dari 20 detik ini terkait dengan proses mencuci tangan memakai sabun secara baik dan benar menggunakan air bersih mengalir minimal selama 20 detik
Program CSR yang dilakukan Lifebuoy tersebut berimbas positif pada penjualan dan pemasaran produk. Tidak heran, ada pula yang menyebutnya sebagai program promosi bergaya CSR. Terlepas yang ditonjolkan adalah CSR atau promosinya, niat Unilever untuk melakukan program CSR dengan mengajak masyarakat mencuci tangan telah membantu meningkatkan kredibilitas perusahaan dan memperbesar market size sabun cuci tangan yang sekaligus membuka peluang pasar baru bagi Lifebuoy. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh oleh perusahaan dengan melakukan CSR, yaitu:
Beberapa bulan terakhir ini saya terlibat dalam riset untuk penulisan buku yang saya kira sangat menarik mengenai entrepreneurship dai kondang Aa Gym. Buku yang terbit beberapa minggu lalu ini judulnya cukup seksi, Aa Gym: A Spiritual Marketer. Terus terang saya menikmati meriset buku ini, karena dari waktu ke waktu saya semakin terpesona oleh prinsip-prinsip bisnis yang dijalankan oleh tokoh Islam karismatik ini. Oleh karena itu tak ada salahnya kalau keterpesonaan ini saya sharing ke para pembaca.
Satu hal yang selalu saya ingat dan mengendap begitu dalam di benak saya selama menulis buku ini adalah kata-kata sederhana Aa Gym: “Allah yang menyuruh jujur, Allah yang memberi rezeki, untuk apa harus tidak jujur”. Saat saya tanya mengenai kunci kesuksesannya berbisnis, jawaban Aa hanya satu: jujur. Jujur kepada pelanggan, jujur kepada partner bisnis, jujur kepada shareholder, jujur kepada masyarakat, jujur kepada semuanya.
Menurutnya lagi, dengan kejujuran, bisnis lebih mudah didapat, loyalitas pelanggan lebih gampang terbentuk, budaya organisasi terbangun kokoh, dan yang terpenting trust di kalangan para stakeholder bisa terjaga harmonis. Ringkasnya, semuanya menjadi lebih gampang, lebih lancar, lebih menghasilkan, dan lebih indah kalau kita jujur. Ini semua menjadi resources yang sangat penting bagi kesuksesan bisnis Aa Gym.