Gengsi! Kelas atau tipe konsumen seperti apakah yang membutuhkan gengsi? Dugaan kita, pastilah konsumen yang relatif kaya. Ini mudah dimengerti karena mereka memiliki daya beli yang lebih besar. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan untuk pamer. Mereka pamer kepada konsumen lain yang tidak mampu membeli atau sekedar ingin menyampaikan pesan bahwa mereka telah mencapai tingkatan status yang lebih tinggi.
Memang, untuk urusan gengsi ini, karakter konsumen Indonesia relatif terlihat menonjol. Tidak mengherankan, banyak merek produk yang seharusnya tidak banyak terjual di Indonesia, tetapi tetap saja memiliki pasar yang besar. Tengok saja beberapa mall besar di Indonesia. Banyak produk-produk bermerek internasional yang terlihat di sana. Melihat gerainya yang cukup besar, pastilah mereka memiliki permintaan yang cukup besar.
You are what you drive! Ini adalah suatu slogan yang tidak banyak diucapkan tetapi terlihat nyata. Pasar Indonesia memiliki mobil yang sangat bervariasi. Untuk ukuran negara dengan pendapatan per kapita yang masih rendah, jumlah mobil mewah yang berada di jalanan relatif terlalu besar. Ini terjadi karena banyak konsumen melihat mobil bukan pada fungsinya tetapi apakah mobil tersebut membantu mereka menaikkan status mereka.
Dibutuhkan sekitar 1 hingga 5 tahun bagi konsumen Indonesia untuk dapat menerima sebuah produk makanan dan minuman yang memiliki bentuk yang baru. Bentuk baru dalam hal ini bisa sesuatu yang dahulunya adalah padat kemudian dibuat cair. Atau yang dahulu keras kemudian dibuat lebih lembut dan sebaliknya. Ambil contohnya adalah minuman nata de coco atau jelly. Perusahaan yang kemudian meluncurkan produk nata de coco dan jelly dalam bentuk cairan atau diminum bersama dengan sari buah nya sehingga menciptakan kategori baru, membutuhkan waktu beberapa tahun hingga konsumen dapat menerima produk ini. Padahal, jelly drink dan sari buah adalah produk yang sudah dikenal luas.
Perusahaan selalu berupaya untuk membangun dan mempertahankan hubungan jangka panjang dengan konsumennya. Switching barriers sudah terbukti merupakan strategi yang relevan dalam mempertahankan konsumen. Faktor ini telah memberikan gambaran yang sangat jelas mengapa konsumen memutuskan untuk tetap menggunakan jasa atau produk meskipun mereka mulai mempertimbangkan untuk berpindah. Di saat kompetisi dan biaya untuk menarik konsumen naik, perusahaan seharusnya mulai fokus terhadap strategi mereka pada mempertahankan konsumen.
Secara gamblang, sebuah komponen kunci dari program mempertahankan konsumen adalah kepuasan. Namun demikian agar efektif, kepuasan haruslah didukung oleh strategi loyalitas lainnya. Membangun barriers untuk customer defection, seperti membangun hubungan yang erat dengan konsumen atau membebani konsumen dengan switching cost dapat dijadikan strategi pendamping selain kepuasan. Kombinasi antara kepuasan dan barriers yang telah disebutkan menjadi sebuah hal penting dalam program mempertahankan konsumen. Kedua hal tersebut dapat membantu perusahaan berada pada posisi yang siap menghadapi persaingan. Sehingga peran kepuasan dapat berkurang ketika exit barriers tinggi dan memiliki peran yang lebih besar ketika exit barriers rendah.
Promag adalah merek obat maag yang mempunyai tingkat awareness tinggi dan juga memiliki penguasaan pangsa pasar yang besar. Hampir semua orang di Indonesia yang mempunyai gangguan terhadap maag mengenal obat ini. Walau mendapat serangan gencar dari merek lain seperti Mylanta dan Waisan, pangsa pasarnya masih tetap di atas 50 %. Apa yang membuat obat ini sukses?
Sederet kemungkinan atau hipotesa yang mendasari kesuksesan obat ini dapat kita tulis. Mungkin karena obat ini memang manjur. Mungkin karena obat ini tersedia di mana-mana. Penyakit maag dapat kambuh setiap saat dan dimana saja sehingga penderita perlu obat maag yang mudah diperoleh. Mungkin juga karena iklannya yang efektif. Pemilihan Dedy Miswar sebagai bintang iklan terlihat pas dan mampu memperkuat posisi merek ini dalam benak konsumennya.
Konsumen Indonesia; Semakin Sadar Akan Kesehatan kah?
Pada tahun 2006, industri makanan dan minuman diguncang oleh isu formalin. Konsumen Indonesia yang sebagian besar sebelumnya hanya tahu bahwa formalin adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan mayat dan binatang mati, sungguh terperanjat. Tidak tanggung-tanggung, ternyata senyawa jahat ini diketemukan di 50 pasar tradisional. Kalau observasi dilakukan di seluruh Indonesia, kemungkinan besar, formalin ini dapat ditemukan di ratusan atau ribuan pasar tradisional di Indonesia.
Media seperti televisi maupun media cetak, ramai-ramai memberitakan senyawa yang terdengar mengerikan ini. Karena gencarnya pemberitaan oleh media, maka makanan seperti tahu, ikan, tempe dan ayam, langsung mengalami penurunan. Konsumen merasa ngeri. Demi keuntungan, produsen berani menggunakan formalin. Ada sebagian produsen yang walaupun tahu, tetapi sengaja menggunakan. Sebagian lain, karena tidak tahu bahwa senyawa ini berbahaya.