acne treatment

Search Engine Optimization and SEO Tools

Main Menu

Artikel
Branding
Buzz Marketing
Digital Marketing
Distribution
Kepuasan Pelanggan
Komunikasi Pemasaran
Marketing Cases
New Wave Marketing
Perilaku Konsumen
Political Marketing
Spiritual Marketing
Strategi Pemasaran
Surfing The New Wave Marketing


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates

Marketing Cases


PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 21 December 2009 12:01

Where do We Go from Here?

 

Warren Buffett punya prinsip investasi yang sederhana tapi sangat kuat.

Takutlah ketika yang lain serakah, dan serakahlah ketika yang lain takut, begitu kata Buffett yang mulai bekerja pada usia 13 tahun sebagai pengantar koran. Buffett itu sendiri mulai memperkenalkan prinsip investasinya ketika memberikan kursus di Columbia University mengenai bagaimana berinvestasi di bursa Wall Street pada saat ia berusia 21 tahun. Dan Buffett bukan hanya sekedar ngomong tapi juga mempraktekkannya.

Dengan memulai bisnis di bidang investasi dengan mendirikan sejumlah partnership untuk berinvestasi saham, di tahun 1965, pada saat ia berusia 65 tahun, ia memulai sebuah langkah besar dengan membeli saham sebuah pabrik tekstil, Berkshire Hathaway. Setahun kemudian, ia mengambil kendali penuh atas perusahaan tersebut, kemudian melepas partnership-nya dan akhirnya pelan tapi pasti mengarahkan perusahaan tersebut sebagai kendaraan investasinya. Melalui kendaraan investasinya inilah, aplikasi dari prinsip investasinya mulai terlihat jelas.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 21 December 2009 11:58

BRI: "The World's Benchmark for Microfinance and The Most Profitable Bank in Indonesia"

 

Muhammad Yunus meraih Hadiah Nobel berkat aktivitasnya melalui Grameen Bank.

Nama Yunus dan Grameen Bank memang sudah lama dibicarakan orang terutama ketika bicara bagaimana memberikan layanan bank bagi mereka yang selama ini digolongkan kebanyak orang sebagai non-bankable customers. Berawal dari keprihatinannya akan  tingkat kemiskinan yang ada di negaranya dan bagaimana mengentaskannya, Yunus melihat bahwa cara terbaik adalah memberdayakan mereka dengan memberikan kesempatan membuka usaha sendiri. Tapi, repotnya, tidak ada lembaga keuangan yang mau memberikan akses ke mereka karena dianggap tidak bankable.

Yunus yang merupakan pengagum Dr Akhtar Hameed Khan, orang yang sebetulnya merupakan pionir keuangan mikro, mencoba mengembangkan lembaga keuangan yang bisa memberikan akses kepada kaum miskin. Di tahun 1976, ia membuat pilot project lembaga keuangan yang bisa memberikan pinjaman kepada kaum miskin dengan mengandalkan pinjaman bank. Pelan tapi pasti pilot project ini berjalan dengan baik, dimana pada tahun 1982 sudah bisa menjangkau 28 000 orang.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 21 December 2009 11:55
Sumalindo Lestari Jaya: "A Sustainability Focused Wood-Based Company"

Dari British Petroleum ke Beyond Petroleum.

Sepintas, itu perubahan yang simpel karena singkatannya masih sama sekalipun ada perubahan kata. Namun, begitu memahami apa yang diubah dan kenapa beubah, sulit untuk tidak mengapresiasi langkah perusahaan ini. Meski sampai sekarang, migas masih merupakan bisnis utamanya, tapi perusahaan tersebut paham akan semakin sensitifnya isu pemanfaatan energi yang berasal dari fosil seperti migas.

Dengan merubah kepanjangan namanya, maka perusahaan menjadi lebih leluasa mewadahi aktivitas eksplorasi dan pemanfaatan energi dari berbagai macam sumber yang ramah lingkungan, terutama yang non-fosil, seperti pembangkit listrik berbasis kincir angin. Untuk menunjukkan keseriusannya dalam inisiatif tersebut, selain mengalokasikan tenaga, dana dan keahlian untuk mengembangkan sumber energi alternatif, perusahaan juga melaporkan dan mengampanyekan apa yang dilakukannya. Sebetulnya, bukan hanya perusahaan energi yang aktif melakukan inisiatif semacam itu untuk menjawab isu tentang praktik bisnis yang ramah lingkungan, tapi juga perusahaan yang mendapat sorotan tajam karena bisnisnya membuka hutan, seperti yang dilakukan perusahaan pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). 

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 21 December 2009 11:52
Indah Kiat Pulp & Paper: "A Giant Pulp and Paper Producer"

Banyak yang kaget kok bisa-bisanya Indonesia masuk G20.

Maklum, karena selama ini punya daya saing yang lebih rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga, maka perekonomian Indonesia juga berada dibawah negara-negara tersebut. Dan hal ini akan tercermin pada pendapatan per kapita atau bahkan cadangan devisa. Tapi yang menjadi ukuran bukan itu, melainkan GDP.

G20 memang merupakan klub 20 negara terbesar dilihat dari besarnya GDP. Ada 5 negara Asia di G20, yaitu China, Jepang, India, Korea Selatan, dan tentu saja Indonesia, yang merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang masuk di klub tersebut. Gabungan ekonomi klub ini adalah sebesar 85 persen total ekonomi dunia dan menyumbang 80 persen perdagangan dunia.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 21 December 2009 11:49

Mandiri: "A Promising Dominant Multi Specialist Bank"

 

Jarak yang jauh dan banyaknya perbedaan tidak menghalangi menyatunya Renault-Nissan.

Di mulai pada tahun 1999, perkawinan antara perusahaan raksasa otomotif Perancis dan perusahaan raksasa otomotif Jepang, yang pada mulanya dianggap sebagai merger yang tidak masuk akal, kini malah dianggap sebagai model merger impian. Sudah jamak rasanya bahwa dalam merger ada isu perbedaan budaya kerja, sistem, dan teknologi. Tapi bagaimana dengan perbedaan budaya yang terkait dengan negara dimana perusahaan itu berasal dan berbasis, dan juga bahasa yang berbeda, serta jarak yang memisahkan antara dua lokasi yang akan menjadi kantor pengendali perusahaan paska merger.

Meski bukan yang pertama dan satu-satunya, merger Renault dan Nissan bisa berjalan sukses karena keduanya bisa seperti pasangan suami-istri dalam perkawinan yang harmonis yang saling menghormati dan tidak merendahkan satu sama lain. Inilah yang mungkin membedakannya dengan merger antara Daimler-Chrysler, yang sebetulnya juga menyangkut dua perusahaan yang terpisahkan jarak, perbedaan budaya kerja, budaya yang terkait negara asal, bahasa dan kekuatan merek serta besarnya uang yang dimiliki. Seperti diketahui, merger Daimler Chrysler tidak berjalan dengan baik, terutama ketika orang-orang Chrysler selalu merasa --dan pada kenyataannya memang demikian-- berada dibawah orang-orang Daimler.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 21

VISITOR

Today42
Yesterday116
Week158
Month792
All42880

INFORMASI SPONSORSHIP

25285_1397097813849_1424348694_2984749_5956945_n.jpg

HR EXCELLENCY

Who's Online

We have 8 guests online