Jimmy Wales merasa yakin bahwa dunia internet akan menciptakan perubahan besar dalam hidupnya. Dengan keyakinan yang tinggi, uang sebesar $ 120.000 dibenamkan untuk membuat sebuah web dengan nama Nupedia di tahun 1998. Apa konsepnya? semua orang yang merasa dirinya sebagai pakar, boleh mengirimkan artikel. Tapi, sebelum artikel bisa dibaca, harus melalui proses review yang panjang untuk menjaga kualitasnya. Sebuah gagasan yang masuk akal dan sungguh bagus.
Apa hasilnya, setelah satu tahun? Nupedia hanya menghasilkan 24 artikel. Dengan jumlah pengunjung situs yang sangat sedikit, dapat dipastikan bahwa Nupedia tidak akan memperoleh banyak pendapatan. Sebagai seorang entrepreneur, Wales sadar akan kesalahan bisnis model yang dibangun.
Wales akhirnya mengubah pola webnya sesuai dengan anjuran Ward Cunningham, kawan dekatnya. Situs dibuat terbuka untuk publik yang ingin mengisi. Dalam 1 bulan, maka masuklah 200 artikel dan setahun kemudian, sudah lebih dari 18.000 artikel yang bisa diakses dari situs ini. Mulailah, sebuah situs dengan Wikipedia muncul dalam jagad internet.
Dunia pemasaran Indonesia akan memasuki era baru pemasaran. Di saat tradisional komunikasi pemasaran mengalami penurunan efektivitasnya sebuah cara baru di dunia pemasaran mengalami perkembangan yang siginifikan. Cara baru tersebut dikenal dengan pemasaran digital. Pemasaran digital yang menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasilnya adalah era baru interaksi antara produsen, intermediasi pasar, dan konsumen.
Sebelum mengerti tentang pemasaran digital harus dipahami tentang apa itu pemasaran. Pemahaman tentang pemasaran secara sederhana adalah segala aktivitas dari mulai proses mendapatkan informasi tentang konsumen sampai dengan proses delivery produk atau jasa kepada konsumen. Pemasaran yang berbasis pada digital akan memberikan gambaran, bagaimana proses tersebut sebagian atau seluruhnya dikombinasikan ke dalam bentuk kontak baru dengan konsumen melalui internet. Ini adalah sebuah terobosan baru untuk membangun hubungan dengan konsumen melalui media baru.
Siapa yang belum punya akun Facebook di zaman sekarang? Sebuah sekolah dasar di Solo bahkan menganjurkan muridnya menjadi pengguna Facebook supaya tercipta komunikasi antara guru dan murid.
Facebook, Twitter dan media sosial lainnya memang sudah menjadi buzzword yang sangat populer akhir-akhir ini. Tak ada media ternama yang tidak membahas fenomena yang satu ini. Beberapa majalah, seperti Fortune, Time dan BusinessWeek, bahkan membahasnya sebagai cerita sampul. Padahal, belum genap tiga tahun Facebook dan Twitter dibuka untuk publik. Sungguh luar biasa perkembangannya.
Di Amerika, mereka yang lahir setelah tahun 1980, dikatakan generasi digital native. Kalau di Indonesia, mungkin yang disebut sebagai generasi digital native adalah mereka yang lahir setelah tahun 1985 atau beberapa tahun lebih lambat dibandingkan dengan orang Amerika. Mereka lahir saat teknologi internet sudah akan dimulai dan ketika masuk Sekolah Dasar, teknologi internet sudah dapat diakses.
Mereka yang lahir di tahun-tahun sebelumnya, termasuk saya yang lahir di pertengahan 1960-an, adalah kelompok digital immigrant. Disebut demikian karena kita sudah biasa berada di dunia real, tetapi kemudian dipaksa untuk masuk dalam dunia virtual. Kita menggunakan internet saat sudah dewasa atau bahkan saat sudah memiliki penghasilan. Tidak seperti anak remaja saat ini, yang sudah sejak awal mengerjakan banyak hal dengan internet. Mereka mengerjakan PR dari sekolah, dengan mencari informasi lewat internet. Mereka memiliki profil di Facebook, Friendster, dan lain-lain. Hampir setiap hari mereka chatting, berbagi pengalaman dan foto melalui internet.
Seperti banyak dialami berbagai brand dunia, pemasaran kepada kalangan muda (youth marketing) tetap menjadi tantangan yang paling memusingkan. Beberapa pemasar bahkan menyebut kalangan muda sebagai the elusive demographic, karena sifat segmen ini yang seakan-akan tidak memiliki karakteristik pasti dan selalu berubah-ubah preferensinya.
Coba kita lihat dua brand yang sempat menjadi benchmark youth marketing di zamannya. MTV dan Levi’s. Pada 1990-an kedua brand ini seakan-akan menjadi simbol anak muda. Kehadirannya di arena budaya pop membawa pengaruh yang signifikan bagi kebanyakan anak muda yang dibesarkan saat itu.