Sekitar dua minggu lalu saya menghadiri sebuah kotbah dari seorang pendeta di sebuah gereja di Kawasan Kuningan. Ada satu hal menarik dari uraian si pendeta di akhir kotbahnya. Dia mengaku terkesan dengan adegan-adegan penyiksaan Yesus yang digambarkan dalam film yang saat ini menghebohkan seluruh jagat, The Passion of the Christ. Dia cerita detail adegan demi adegan penyiksaan yang bersimbah darah dalam film tersebut, sambil sesekali mengaitkannya dengan tema kotbahnya mengenai pengorbanan Yesus.
”Dampak samping” dari Kotbah si pendeta gampang ditebak. Semua jemaat jadi penasaran ingin menonton film itu. Dan seperti halnya saya, seusai kotbah mereka buru-buru keluar untuk mencari VCD-nya di toko. Dan pucuk dicinta ulam tiba, di mulut pintu gereja, rupanya sudah menunggu berjajar beberapa penjual VCD bajakan The Passion menjajakan dagangannya.
Tentu saja mereka bukan anggota pengurus gereja, mereka adalah para pedagang kagetan yang jeli menangkap peluang boom-nya The Passion. Menariknya, baru kemarin saya mendengar isu di kalangan pedagang bahwa VCD The Passion akan dilarang beredar di Indonesia. Bisa ditebak VCD film ini akan semakin diburu semua orang yang penasaran mengenai isi film tersebut.
Saya masih penasaran, karena itu setelah mendapatkan VCD-nya begitu sampai di rumah saya langsung membuka Google, dan langsung surving saya akhirnya sampai ke www.thepassionofthechrist.com. Dari menjelajah situs ini beberapa menit saya jadi tahu bahwa The Passion adalah “the great buzz marketing story” dan Mel Gibson si sutradara sekaligus pendana film tersebut adalah ”the great buzz marketer” yang piawai menggunakan kekuatan word of mouth alias promosi dari mulut ke mulut dan referal marketing untuk mendongkrak penjualan filmnya.
Anda mau tahu kisah sukses film ini? Pada saat pemutaran perdana pada tanggal 25 Februari lalu (bertepatan dengan perayaan Rabu Abu) The Passion mampu mengeruk fulus $23 juta dolar. Itu berarti dana yang ditanamkan Gibson untuk memproduksi film ini (sekitar $25 juta) sudah hampir balik modal dalam sehari. Dengan kinerja penjualan yang fantastis itu, saat ini film tersebut mengungguli film-film unggulan Hollywood termasuk film super kolosal The Lord of the Ring yang sukses menyabet 11 Piala Oscar.